Me 1

Ketika kamu jatuh, jangan tetap di bawah. Jatuh bukan berarti kalah, itu hanya berarti kamu harus bangkit dan kembali mencoba.

Me 2

Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

Me 3

Hidup ini terlalu berharga tuk habiskan waktumu memikirkan dia yang tak memperlakukanmu dengan baik, dan tak pernah menganggapmu ada.

Me 4

Jangan membenci mereka yang mengatakan hal buruk tuk menjatuhkanmu, karena merekalah yang buatmu semakin kuat setiap hari.

Me 5

Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.

Tampilkan postingan dengan label other. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label other. Tampilkan semua postingan

Tasripin, Bocah Sekecil Itu Menanggung Beban Keluarga...

Tasripin (dua dari kanan) bersama ketiga adiknya di rumahnya di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (13/4). Tasripin terpaksa menanggung beban sebagai kepala keluarga setelah ditinggal kedua orangtuanya. Mereka sebatang kara setelah sang ibu meninggal, sedangkan ayah mereka bekerja di Kalimantan. Tasripin memilih berhenti sekolah dan menjadi buruh tani demi mendapat upah untuk makan nasi kerupuk atau garam bagi ketiga adiknya.

Ketika jutaan anak-anak seusianya bersekolah, bermain, dan disayang orangtua, Tasripin (12) terpaksa menjadi buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya. Peran kepala rumah tangga kini disandangnya.

Tasripin mengambil alih tanggung jawab itu setelah ditinggal kedua orangtuanya. Kemiskinan kian menyudutkannya. Bocah itu tak lagi menikmati waktu, dan menguapkan cita-citanya menjadi guru.

Keseharian Tasripin, warga Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sudah dimulai saat azan subuh baru saja berkumandang. Ia memulai hari dengan menanak nasi di dapur yang gelap dan lembab. Ketiga adiknya dibangunkan, lalu satu per satu dimandikan.

”Yang paling kecil yang rewel. Nangis terus. Sering tak mau dimandikan jika sedang ingat bapak. Jika ada uang, saya kasih, baru diam,” tutur Tasripin, Sabtu (13/4), di rumahnya, yang jauh dari standar kelayakan di kaki Gunung Slamet.

Beda dengan rumah sebelahnya yang berlantai keramik dan bertembok, rumah yang ditempati Tasripin dan adik-adiknya terbuat dari papan berukuran sekitar 5 meter x 6 meter. Hanya dua kursi panjang dan satu meja kayu yang menjadi perabot di ruang yang lantainya beralaskan semen pecah-pecah itu. Meski hari sudah mulai siang, ruangan itu pengap.

Tasripin dan ketiga adiknya, Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4), tidur di dipan kayu beralaskan karpet plastik. Saat dingin menyergap, mereka hanya berselimutkan sarung. Lingkungan yang jelas tidak sehat bagi bocah-bocah itu.

Setelah memandikan ketiga adiknya di pancuran yang mengalir alami di belakang rumah, Tasripin menyuapi Daryo, si bungsu. Pagi itu, mereka sarapan mi instan.

”Ini sedang ada rezeki, Pak. Jika enggak ada uang, ya nasi putih sama kerupuk, kadang cuma sama garam,” ujar Tasripin. Ia putus sekolah sejak kelas tiga sekolah dasar (SD) sebab harus mengurus ketiga adiknya itu.

Satinah, ibu mereka, meninggal dua tahun lalu, di usia 37 tahun, akibat terkena longsoran batu saat menambang pasir di dekat rumahnya. Kuswito (42), ayah mereka, sudah setengah tahun terakhir ini merantau ke Kalimantan bekerja di pabrik kayu bersama Natim (21), anak sulungnya.

Jadi buruh tani

Meski yatim dan jauh dari ayahnya, Tasripin berusaha mandiri. Ia cekatan mengurusi adik-adiknya. Untuk makan sehari-hari, dia bekerja membantu tetangganya menjadi buruh tani, bekerja di sawah, mengeringkan gabah, hingga mengangkut hasil panen turun. Ia tidak mengeluh meski harus naik bukit sejauh 2 kilometer dari sawah ke rumah juragannya. Tasripin berangkat ke sawah pukul 07.00 dan pulang pukul 12.00. ”Kadang dibayar beras, kadang uang Rp 10.000. Dicukupin buat makan dua kali sehari. Harus disisain buat jajan adik-adik,” jelasnya.

Sering kali ia terpaksa berutang. Beruntung, tetangganya memaklumi kondisi mereka. ”Kami paham kondisi mereka. Jika Tasripin beberapa hari tidak ada pekerjaan, tetangga atau bibinya yang kasih makan,” ujar Salimudin (59), pemilik warung tempat Tasripin biasa membeli bahan makanan.

Selain memasak, Tasripin juga mencuci pakaian, menyapu rumah, hingga terkadang membetulkan talang air rumahnya yang bocor. Meskipun bekerja, dia selalu memantau ke mana adik-adiknya bermain. Jika sore menjelang dan adiknya belum pulang, ia akan mencari mereka hingga ke hutan.

Ayahnya beberapa kali mengirim uang melalui bibi Tasripin. Uang itu untuk membayar listrik dan kebutuhan mendesak, seperti jika ada adiknya yang sakit. Akibatnya, sekolah menjadi barang mahal bagi mereka. Dari keempat anak itu, hanya Daryo yang bersekolah di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tasripin sebenarnya masih terlilit biaya sekolah lebih dari Rp 100.000 di SD Negeri Sambirata 3. Kedua adiknya, Dandi dan Riyanti, tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek teman-temannya. Riyanti, adik perempuannya, sakit. Ada luka di kepalanya.

Meski miskin dan tidak merasakan pendidikan, Tasripin merasa bertanggung jawab pada akhlak adik-adiknya. Tiap sore dia mengajari adik-adiknya membaca Al Quran. Dengan sabar, dia juga mengajak adiknya shalat dan mengaji di mushala depan rumahnya. Saat malam kian larut, ia mulai menidurkan adiknya. Dinginnya angin gunung yang menelusup melalui celah papan rumahnya dilawan Tasripin dengan memeluk erat adik-adiknya yang lelap.

Terpencil dan tertinggal

Potret kehidupan Tasripin tak lepas dari kemiskinan yang membelenggu keluarganya. Ini diperparah kondisi Dusun Pesawahan yang terpencil. Saat masih bersekolah, Tasripin harus berjalan kaki sekitar 3 kilometer melintasi jalan berbatu, perbukitan, dan hutan setiap hari.

Kepala Dusun Pesawahan Warsito membenarkan, banyak anak putus sekolah dan tak menuntaskan pendidikan dasar sembilan tahun di dusunnya. Selain faktor jarak, kemauan untuk belajar warga dusun itu juga masih rendah. Bahkan, di dusun itu hanya ada dua lulusan sekolah menengah atas dan dua lulusan sekolah menengah pertama. ”Ratusan warga masih buta huruf,” kata Warsito.

Dusun Pesawahan berjarak sekitar 30 kilometer dari Purwokerto, pusat kota Banyumas. Dusun itu terdiri atas 103 rumah dengan penduduk berjumlah 319 jiwa.

Bupati Banyumas Achmad Husein mengaku khawatir kisah Tasripin hanya fenomena gunung es di Banyumas. Aparatur pemerintah harus peduli.



source : KOMPAS ____________________________________________________________________________
Redaksi: Merespons berbagai pertanyaan di kolom komentar, pembaca yang ingin mengulurkan tangan untuk Tasripin silakan menghubungi redaksi Harian Kompas di 021-5347710

Tips Cara Membuat Otak Terang dan Cemerlang


Otak merupakan salah satu bagian tubuh yang penting karena memuat berbagai pusat yang mengatur tubuh. Tapi ada cara mudah yang bisa dilakukan untuk membantu menyehatkan otak sehingga tetap terang dan cemerlang.

Untuk membuat otak tetap sehat dibutuhkan asupan makanan yang bisa meningkatkan otak serta melakukan beberapa latihan atau kegiatan yang dapat menjaga fungsi kognitif dari otak.

Berikut ini beberapa cara mudah yang bisa dilakukan untuk menyehatkan organ tubuh otak :

Memberikan makanan yang baik untuk otak
Lebih dari setengah bagian otak terdiri dari lemak, karenanya lemak sangat dibutuhkan oleh otak untuk mempertahankan ketajaman berpikir dan berfungsi dengan baik.

Lemak yang dibutuhkan seperti asam lemak omega-3 yang penting untuk fungsi dan perkembangan kognitif otak, serta penggunaan lemak baik seperti minyak zaitun atau minyak canola.

Selain lemak, sayuran hijau juga bisa membantu melindungi otak dari penyakit Alzheimer dan demensia (kepikunan). Berdasarkan studi tahun 2009 yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Neurology menunjukkan bahwa bayam dan sayuran hijau lain yang mengandung folat bisa menangkal demensia dan kondisi penurunan kognitif lainnya.

Makanan dan minuman lain yang bisa meningkatkan kinerja otak adalah blueberry, blackberry, jus anggur ungu, apel, kayu manis dan sayuran seperti brokoli serta kembang kol.

Melenturkan otak
Dr Gayatri Devi selaku ahli saraf menyarankan msyarakat untuk melakukan aktivitas beragam sehingga bisa merangsang bagian otak lain yang mengarah pada kesehatan kognitif secara lebih baik dan menyeluruh.

Kegiatan yang bisa dilakukan adalah melakukan sudoku, lalu beralih ke soal matematika, mendengarkan musik klasik, menari, bermain tenis atau bersosialisasi dengan orang-orang. Beragam kegiatan ini akan menjaga otak dengan baik dan melatih otak agar tidak hanya satu bagian saja yang aktif.

Melakukan olahraga
Dr Devi menuturkan salah satu cara untuk membuat otak menjadi sehat adalah melalui latihan atau olahraga, karena latihan bisa membuat tubuh bekerja dengan baik dan fungsi kognitif menjadi lebih baik.

Dengan mendapatkan aktivitas fisik yang baik akan meningkatkan asupan oksigen dalam otak, memelihara sel-sel otak serta meningkatkan pertumbuhan sel saraf yang baru. Lakukanlah olahraga seperti aerobik 3-5 kali dalam seminggu.

source : BERITA UNIK

Tingkat Stres Ibu Beranak Autis Setara Tentara Perang


Para ibu yang memiliki anak autistik dideteksi mengalami kelelahan dua kali lebih banyak dan menghadapi situasi stres tiga kali lebih banyak (thinkstockphoto) Di Amerika Serikat, prevalensi anak autisme meningkat menjadi satu berbanding 50 dalam kurun waktu setahun terakhir. Prevalensi terbaru ini dikemukakan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS pada Maret 2013.
 Survei dilakukan melalui telepon dengan sasaran 100.000 orang tua, dengan kurun waktu 2011 dan 2012. Selain terkait kesehatan secara umum, pertanyaan yang diajukan terhadap para orang tua adalah: apakah dokter memiliki peran dalam memberikan informasi bahwa anak mereka menyandang autisme? Prevalensi dalam hasil survei ini meningkat dibandingkan hasil survei CDC tahun lalu yang menyatakan bahwa angkanya adalah 1 dari 88 anak.
 Salah satu penyebab peningkatan ini adalah adanya diagnosis yang lebih baik terkait Spektrum Autistik. Namun, sama seperti survei sebelumnya, anak lelaki yang terdeteksi menyandang autisme berjumlah empat lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan. Menurut psikolog Adriana S Ginanjar dalam bukunya Menjadi Orang Tua Istimewa, beberapa ciri khas yang ada pada anak autistik adalah mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang lain, memiliki hambatan dalam berbicara dan berkomunikasi, serta tingkah laku repetitif dan minat yang sempit. Pada 2009, para peneliti dari University of Wisconsin-Madison mengikuti sekelompok ibu yang memiliki anak autisme remaja dan dewasa selama delapan hari. Saat mengukur hormon yang terkait dengan stres, mereka menemukan bahwa kadarnya hampir sama dengan tingkat stres tentara yang sedang berperang.
Hal ini dituangkan dalam Journal of Autism and Developmental Disorders. Para ibu yang memiliki anak autistik dideteksi mengalami kelelahan dua kali lebih banyak dan menghadapi situasi stres tiga kali lebih banyak, dibandingkan dengan ibu pada umumnya. Namun, keduanya tetap sama-sama mengalami berbagai hal positif.

 source : NATIONALGEOGRAPHIC