Me 1

Ketika kamu jatuh, jangan tetap di bawah. Jatuh bukan berarti kalah, itu hanya berarti kamu harus bangkit dan kembali mencoba.

Me 2

Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

Me 3

Hidup ini terlalu berharga tuk habiskan waktumu memikirkan dia yang tak memperlakukanmu dengan baik, dan tak pernah menganggapmu ada.

Me 4

Jangan membenci mereka yang mengatakan hal buruk tuk menjatuhkanmu, karena merekalah yang buatmu semakin kuat setiap hari.

Me 5

Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.

Tampilkan postingan dengan label unique. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unique. Tampilkan semua postingan

Pohon yang Dinyatakan Punah Ditemukan Lagi


Ekspedisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pulau Mursala, Tapanuli Barat, Sumatera Utara, menemukan lagi pohon kayu keras jenis meranti, Dipterocarpus cinereus Sloot, yang dinyatakan punah tahun 1998. Penyelamatan keanekaragaman hayati diyakini belum terlambat. ”Hanya sedikit pohon itu yang tersisa di Pulau Mursala. Perlu diselamatkan,” kata Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mustaid Siregar, Rabu (10/4/2013), di Bogor, Jawa Barat. Penyelamatan hayati untuk menemukan manfaat lain yang lebih besar.
 Menurut anggota tim ekspedisi Yayan Wahyu, masyarakat lokal menyebut pohon kayu tersebut sebagai keruing. Jenis kayu itu bernilai ekonomi tinggi dengan jumlah yang sudah sedikit di habitatnya di Pulau Mursala. Tim ekspedisi terdiri atas kelompok peneliti Reintroduksi dan Restorasi Kebun Raya Bogor. Mereka adalah Yayan Wahyu C Kusuma, Wihermanto, Selin Siahaan, dan Rahmat. Tim ekspedisi ingin memastikan keberadaan jenis pohon kayu yang sudah dinyatakan punah itu. Berdasarkan catatan herbarium, pohon itu pertama kali ditemukan pegawai Jawatan Kehutanan berkebangsaan Belanda, AV Theunissen, tahun 1916. Sebelas tahun berlalu, jenis pohon yang saat itu sudah tergolong sedikit ini diidentifikasi Dirk Fok van Slooten. Tahun 1998, Lembaga Konservasi Alam Dunia (IUCN) menyatakan jenis pohon ini hilang atau punah. Menurut Mustaid, Indonesia wajib menjalankan konvensi internasional mengenai penyelamatan keanekaragaman hayati atau Convention on Biological Diversity (CBD).
Dipterocarpus alatus, kerabat dekat Dipterocarpus cinereus Sloot.
 Hal itu, antara lain, karena telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati. Peringkat Indonesia Data terbaru dari daftar merah IUCN tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat ke-5 bersama Brasil sebagai negara dengan jumlah tumbuhan terancam kepunahan tertinggi di dunia. Tercatat sebanyak 393 jenis tumbuhan dari total 1.063 jenis tumbuhan terancam punah. Jumlah itu meningkat 1,7 persen dibandingkan dengan tahun 2010. Mustaid menyebutkan, tim ekspedisi Pulau Mursala menemukan lebih dari 70 koleksi tumbuhan dengan 200 spesimen. Setidaknya, tujuh jenis pohon meranti-merantian (Dipterocarpaceae) langka sesuai daftar merah IUCN telah ditemukan. Di Sumatera, teridentifikasi 8 marga dan 112 jenis tumbuhan dalam suku Dipterocarpaceae.
 Sebanyak 12 jenis di antaranya tercatat terdapat di Pulau Mursala. ”Tim ekspedisi menemukan 10 jenis,” kata dia. Kesepuluh spesies Dipterocarpaceae tersebut meliputi Dipterocarpus cinereus Sloot (sudah dinyatakan punah). Selebihnya, sebagian besar terancam punah yang meliputi Dipterocarpus caudatus Foxw. s.sp. penangianus (Foxw) Ashton, Dipterocarpus kunstleri King, Vatica perakensis King, Vatica pauciflora Blume, Dryobalanops aromatica C.F. Gaertn, Dryobalanops oblongifolia Dyer, Shorea parvifolia ssp. parvifolia, Shorea macrantha Brandis, dan Hopea cf bancana (Boerl.) Sloot. ”Keberadaan kebun raya tematik pohon meranti-merantian termasuk sangat mendesak untuk diwujudkan,” kata Mustaid.

 source : KOMPAS

Ponsel, 40 Tahun dalam Genggaman

Pada 3 April 1973 di kota Manhattan, Amerika Serikat, seorang insinyur Motorola bernama Martin Cooper melakukan panggilan pertama dengan telepon seluler. "Joel, ini Martin. Saya menelepon Anda dari telepon seluler. Telepon seluler portabel nyata dalam genggaman," kata Cooper kepada teman sekaligus pesaingnya, Joel Engel, yang bekerja sebagai kepala riset di Bell Lebs. Demikianlah percakapan pertama yang dilakukan manusia melalui telepon seluler atau kini dikenal sebagai ponsel. Cooper menelepon dengan ponsel Motorola DynaTAC 8000x yang berukuran besar dan bobotnya mencapai 2,5 kg. Bobot yang jauh berbeda dengan ponsel modern saat ini. Ponsel masa kini digunakan bukan sekadar untuk menelepon atau mengirim pesan singkat saja. Fungsinya makin cerdas, bisa untuk menjalankan beragam aplikasi yang mendukung produktivitas kerja manusia. Martin Cooper, yang kerap disapa Marty, dikenal sebagai "bapak ponsel" karena memelopori kelahiran industri komunikasi nirkabel. Lahir di Ukraina pada 26 Desember 1928, kemudian ia hijrah ke Chicago, Illinois, AS. Ia bergabung dengan Motorola pada 1954 sebagai insinyur yang mengembangkan peralatan telekomunikasi bergerak. Visinya dalam teknologi ponsel pertama kali disusun pada akhir tahun 1960, ketika telepon mobil diciptakan oleh perusahaan telekomunikasi AT&T. Penemu yang penuh visi Dalam wawancara dengan BBC, Cooper mengatakan ingin menciptakan sesuatu yang akan mewakili individu sehingga seseorang bisa menetapkan sebuah nomor. "Bukan (nomor yang ditujukan, red) ke suatu tempat, bukan ke meja, bukan untuk rumah, tapi untuk seseorang," tegas Cooper, seraya bertekad ingin menjadikan ponsel sebagai benda pribadi. Ia dahulu berpikir bahwa produksi awal ponsel pada 1983 membutuhkan biaya 3.500 dollar AS. Hal ini mungkin jadi penghalang misinya yang ingin membuat ponsel diproduksi secara massal. Tetapi, ia percaya bahwa suatu hari ukuran ponsel akan berevolusi menjadi kecil dan biaya produksinya semakin murah. "Kami membayangkan bahwa suatu hari ponsel akan sangat kecil sehingga Anda bisa menggantungnya di telinga, atau bahkan ponsel akan tertanam di bawah kulit Anda," katanya. Berkat kerja kerasnya, Cooper memegang 11 paten teknologi dan dianggap sebagai salah satu penemu terkemuka di abad 20 serta diakui sebagai inovator dalam manajemen spektrum frekuensi radio. "Ini menyenangkan saya yang pada akhirnya memiliki beberapa dampak kecil pada kehidupan masyarakat karena ponsel ini memang membuat kehidupan masyarakat lebih baik. Mereka mempromosikan produktivitas, mereka membuat orang lebih nyaman, mereka membuat manusia merasa aman dan semua hal lain," jelas Cooper. Lelaki berusia 85 tahun ini sekarang masih duduk di dewan komite yang mengurus telekomunikasi Amerika Serikat. Bersama Arlene Harris, istri sekaligus mitra kerjanya, Cooper mendirikan beberapa perusahaan teknologi dan telekomunikasi yang sukses, antara lain Dyna LLC, GreatCall, dan Arraycomm.

 source : LINTAS IPTEK

Ritual Aneh, Perang Lempar Nasi di Jawa Timur



Ritual yang digelar di punden Dusun Tambakselo, Desa Planglor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi tergolong aneh.

Pasalnya, dalam menjalankan setiap ritual, nasi yang dibawa peserta ritual selalu dimakan dan sebagian digunakan makan bersama. Namun tidak demikian, di kampung yang tergolong berdekatan dengan hutan jati ini.

Nasi yang dibungkus dalam daun pisang dan jati itu, ditumpuk di tengah acara ritual. Selanjutnya, usai diberi doa-doa oleh sesepuh desa setempat, jutsru nasi itu digunakan bahan untuk perang nasi di tanah lapang sekitar lokasi punden desa itu dengan peserta mulai dari kalangan anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga kalangan orangtua.

Padahal, ritual yang selama ini disebut warga nyadran keselamatan dan meminta berkah atas hasil panen berlimpah ini, juga untuk mendapatkan berkah dan ridlo Allah SWT.


Salah seorang toko masyarakat setempat, Martono mengatakan semua peserta ritual membawa nasi yang dibungkus sebagian daun pisang dan sebagian lagi daun jati termasuk lauk pauknya. Bahkan dirinya sendiri juga membawa lauk pauk lengkap beserta nasinya. Setelah dikumpulkan menjadi sekitar 7 gungan nasi bungkus, kemudian warga mengitarinya dan membacakan doa-doa. Seusai doa, langsung dilaksanakan perang nasi dengan cara melempar nasi bebas ke arah mana pun dan ke siapa pun.

"Catatannya tidak ada dendam antar peserta meski kena lempar nasi sebesar kepalan tangan," terangnya usai ritual.


Selain itu, Martono mengungkapkan jika awalnya sejak jaman nenek moyangnya ritual di pundem desa nasinya hanya digunakan ritual, didoakan dan kemudian di makan bersama peserta ritual. Namun, sekitar 15 tahun lalu, usai nasi didoakan di pundem nasi dan lauknya tidak dimakan warga bersama-sama lagi. Akan tetapi, sejak 15 tahun terakhir tradisi ini diubah dengan perang nasi.

Quote:
Tradisi ritual ini diilhami maraknya anak muda yang sering bertengkar dan tawuran. Oleh karenanya pertama kali ritual dilaksanakan guna untuk mengurangi kenakalan remaja dalam bentuk tawuran diganti dengan ritual saling lempar nasi.
"Perang nasi ini hanya untuk menjalin keakraban dan persaudaraan. Demi begitu, semua unek-unek peserta terlampiaskan dan tidak ada dendam dengan warga lainnya," tegasnya.


Sementara, Kepala Desa Planglor,menegaskan jika tradisi ini akan dilaksanakan setiap jumat legi setiap setahun sekali seusai lebaran. Tradisi itu, sudah dilaksanakan turun temurun sejak jaman nenek moyangnya penghuni awal di desanya. Tradisi ini, kata Kades untuk mendapatkan berkah dan keselaman bagi warganya. Selain itu, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpa kemarin.

"Memang untuk perang nasi ini, efektif dapat mengurangi tawuran antar remaja di kampung kami. Karena dulunya nasi hanya dibuat ritual dan didoakan sekarang dibuat perang nasi," urainya.


Sementara, usai mengikuti perang nasi sebagian warga memunguti sisa nasi yang masih bisa diselamatkan dari tumpukan nasi yang berserakan dan berceceran di sekitar punden desa. Namun, warga memungut sisa nasi ini bukan untuk dimakan akan tetapi untuk dikeringkan digunakan untuk pakan ternak.

"Kami kumpulkan sisanya untuk pakan ternak ayam dan unggas kami di rumah," tandas Sayinem (37) warga setempat.
source : TRIBUN NEWS

Sepeda Pertama di Dunia


Seperti ditulis Ensiklopedia Columbia, nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Prancis. Menurut kabar sejarah, negeri itu sudah sejak awal abad ke-18 mengenal alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang merujuk hasil rancang bangun kendaraan dua roda.


Yang pasti, konstruksinya belum mengenal besi. Modelnya pun masih sangat "primitif". Ada yang bilang tanpa engkol, pedal tongkat kemudi (setang). Ada juga yang bilang sudah mengenal engkol dan setang, tapi konstruksinya dari kayu.

Adalah seorang Jerman bernama Baron Karls Drais von Sauerbronn yang pantas dicatat sebagai salah seorang penyempurna velocipede.

Tahun 1818, von Sauerbronn membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai kepala pengawas hutan Baden, ia memang butuh sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan tampaknya masih mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron sebagai dandy horse.







source : CLUSBI

Makhluk Ini Setengah Manusia Setengah Kera

Ilmuwan baru-baru ini berhasil mengungkap karakteristik spesies Australopithecus sediba. Mereka mengungkap bahwa spesies tersebut memiliki karakteristik setengah manusia setengah kera. A sediba adalah spesies kuno yang eksis sekitar 2 juta tahun lalu. Spesies ini adalah anggota bangsa Australopithecines. Dalam evolusi, perkembangan bangsa tersebut yang kemudian memunculkan spesies manusia. Jeremy DeSilva dari Boston University yang menjadi pemimpin analisis fosil tulang A sediba menjelaskan, ada beberapa karakter yang menjadikan spesies tersebut dikatakan punya karakter manusia maupun kera. Bagian atas tulang rusuk spesies itu mirip kera, tetapi bagian bawahnya mirip manusia. Sementara tulang tangan, kecuali bagian pergelangan tangan dan telapak tangan, mirip kera, yang menunjukkan adanya keahlian untuk memanjat. Karakter gigi A sediba juga merupakan perpaduan antara manusia dan kera. Debbi Guatelli Steinberg dari Ohio University yang juga terlibat riset menuturkan, selain A sediba, spesies lain yang punya gigi mirip manusia adalah A africanus. Ciri tulang kaki A sediba juga unik. Bagian telapak kaki belakang sempit sehingga tak mendukung gaya jalan tegak. Namun, tulang pinggul menunjukkan karakteristik yang mendukung berjalan tegak. Dengan karakteristik itu, A sediba juga mempunyai gaya jalan yang khas. Jika manusia menapak tanah dengan bagian telapak kaki belakang lebih dulu, A sediba menapak tanah dengan bagian samping kaki lebih dulu. Selanjutnya, telapak kaki akan melingkar ke dalam. Bagaimana jika manusia berjalan dengan gaya yang sama dengan spesies ini? DeSilva seperti dikutip AP, Kamis (11/4/2013), mengatakan, "Saya telah berjalan keliling kampus dengan cara ini dan ini menyakitkan." A sediba memiliki karakteristik tulang kaki yang khas sehingga rasa sakit tidak muncul. DeSilva mengungkapkan, karakteristik spesies itu dikembangkan untuk mendukung aktivitas memanjat sekaligus berjalan tegak di tanah. Meski karakteristik A sediba telah diketahui, ilmuwan belum bisa menyimpulkan apakah memang A sediba nenek moyang langsung spesies manusia. Ilmuwan juga belum mengetahui apakah A sediba lebih dekat kekerabatannya dengan manusia dibanding A africanus. source : KOMPAS